Selasa, 25 Oktober 2011

Terapkan Manajemen Njawani dalam Perusahaan

30 September 2011 | 19:01 wib

Terapkan Manajemen Njawani dalam Perusahaan

image Semarang, CyberNews. Perusahaan keluarga acap dianggap memiliki gaya manajemen kelas dua, dibandingkan dengan perusahaan yang bukan keluarga. Padahal fakta membuktikan banyak perusahaan keluarga yang menjadi raksasa. Tentu mereka mempunyai beberapa kelebihan, di samping kekurangan-kekurangan yang ada.
Seperti apa yang dilakoni Ir H Budi Santoso, Komisaris Utama PT Suara Merdeka Press. Dalam memimpin surat kabar yang sudah terbit sejak 11 Februari 1950 dan tergolong bisnis keluarga, Budi menerapkan manajemen yang njawani yaitu menjalankan bisnis secara profesional namun tetap memelihara nilai-nilai kekeluargaan.
"Kami berpijak pada dua pilar yang berbeda, yakni keluarga hingga negara. Yang satu membutuhkan nilai-nilai khas kekeluargaan, yang lain membutuhkan profesionalisme hingga patriotisme. Tapi apa pun pilihan budayanya, tuntutan utama bagi perusahaan adalah tumbuh dan berkembang," katanya dalam Lokakarya Kurikulum Program S1 Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, di gedung PKM FE Undip, Jumat (30/9).
Pembicara lain pada acara tersebut adalah Bambang Setiyono, Direktur PT Yale Setya Sentosa yang bergerak di bidang ekspor furnitur.
Di balik pertumbuhan dan perkembangan Suara Merdeka, menurut Budi, ada budaya Jawa yang menjadi faktor higienis dan berpengaruh pada kesehatan kejiwaan karyawan.
Suasana kerja, relasi antar karyawan, serta hubungan atasan dan bawahan harus sesuai dengan nilai-nilai budaya Jawa. "Dalam rangka memotivasi karyawan, setiap tahun, tepat pada saat Suara Merdeka berulang tahun, saya selalu menulis sendiri sesanti yang akan menjadi panduan moral karyawan dalam bekerja. Pada tahun 1992, sesanti saya berbunyi 'gemi, nastiti, ngati-ati'. Lalu pada tahun 2001 berbunyi  'Jadilah perekat komunitas yang efektif untuk kebesaran bangsa',"
paparnya.
Selain memiliki jiwa entrepreneurship, lanjutnya, dalam sebuah perusahaan juga harus dimiliki jiwa intrapreneurship. Dengan jiwa intrapreneurship, karyawan akan memiliki tanggung jawab dan respons sebagai pemilik usaha adalah sikap wirausaha.
"Sebenarnya di masyarakat Jawa ajaran intrapreneurship ini sudah ada di dalam ajaran Tridarma yang memiliki tiga inti yaitu rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi, dan mulat sarira hangrasa wani," tutur Budi.
Sementara itu Bambang Setiyono mengatakan, untuk menjadi seseorang yang memiliki jiwa wirausaha atau entrepreneurship, seseorang harus memiliki keberanian, kreativitas dan inovasi, serta punya mimpi untuk maju. Modal uang juga bukan menjadi yang utama. "Kita harus berani merubah sesuati seperti membuat marketing yang menarik. Kalau produknya bagus tapi marketing tidak menarik, ya sama saja," katanya.
Dia memberi tips bagi siapapun yang ingin memulai usaha dengan modal terbatas. Pertama, bisa memulai bisnis dari rumah. Dapat menggunakan peralatan yang sudah ada di rumah, sehingga dapat menghemat biaya. Kedua, pilihlah bisnis yang tidak banyak modal. Ketiga, sebaiknya hindari terlebih dulu untuk meminjam uang di bank.
"Sebab meminjam uang di bank akan diikuti dengan bunga yang terus berjalan. Kalau bisnis kita nantinya kurang bagus, bunga bank pasti akan memberatkan," imbuhnya.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/09/30/97901/Terapkan-Manajemen-Njawani-dalam-Perusahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar